Filed under: My experience | Tags: adhyaksa center, ceger, rumah sakit kejaksaan
Akhirnya…! (eh..atau awalnya ya?) Tanggal 16 Juli 2009 dilakukan peletakan batu pertama Adhyaksa Center di Kelurahan Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Adhyaksa Center merupakan pusat pelatihan dan pengembangan Kejaksaan Agung RI yang disitu akan terdiri dari Rumah Sakit Pusat Kesehatan Kejaksaan Agung RI dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Wana wisata serta Gedung Serba Guna. Diharapkan dengan dibangunnya Adhyaksa Center ini, kerja Kejaksaan akan semakin profesional dan penegakan hukum akan lebih pasti.

Ini nih yang ditunggu2 para CPNS. Ya… setelah bekerja selama beberapa bulan, wajar dong mengharapkan gaji yang tak kunjung tiba. Secara PNS gitu, eh CPNS ding malah, sementara masih mengandalkan gaji untuk bertahan hidup. Jadi ceritanya kemaren April itu aku dah mulai kerja, tapi karena permasalahan birokrasi, seperti halnya teman-teman lain, gaji April baru bisa cair setelah diusulkan ke bendahara negara. Jadi mulailah diriku bekerja bulan April itu tanpa belum digaji. Eh ternyata ada yang salah dengan surat pengangkatanku menjadi CPNS. Jadi terpaksa bulan Mei juga tidak bisa terima gaji.. huhuhu sedihnya. Mau makan apa saya mak??? tapi tetep semangat dong kerja, mengabdi pada negara huehehe… dan akhirnya tanggal 15 kemaren, hari senin, datanglah Pak Mitro dari keuangan. “Dok, rapelannya dah keluar…” yipiiii…. senangnya dapat 2 bulan gaji berturut-turut. Ya begitulah, dibilang seneng ya seneng karena gaji akhirnya turun, walaupun itu sebenernya memang hak kita. (Berarti negara utang ke kita dunk hehe…) Lumayan’lah duitnya bisa buat ngelunasin utang makan di Pak Turiman… indomie 2, nasi uduk 2, bakwan 6, kerupuk 4, dibayar LUNAS :p
Filed under: My experience | Tags: aktivitas yohan, dokter, ekstradisi, imigrasi, klinik, polda
Senin, 25 Mei 2009: ke polda, bersama Roy, mas Beny, mas Heru atas permintaan Pak Jan Maringka untuk memeriksa status kesehatan tahanan. Sampai kesana ketemu Pak Yanuar, Bu Yunita dan orang2 Polda. Sorry ga apal. Hasil nihil
Selasa, 26 Mei 2009: ke polda lagi, kali ini ditambah dengan dr. Hendra. Berkenalan dengan dr. Dedy Affandi, SpJP, ketemu langsung dengan Pak Jan Maringka, orang2 Polda, Deplu, Imigrasi; dan finally mission is completed. Ditutup dengan makan kambing2an hehe…. thx Pak Jan jamuannya
Rabu, 27 Mei 2009: kali ini bisa beristirahat, fokus dengan pasien di poli. Kasihan 2 hari ditinggal2…
Kamis, 28 Mei 2009: sepertinya akan berlangsung baik2 saja, siap untuk pulang ke rumah ketika tiba2 hp berbunyi. Ternyata panggilan dari bos. Home visite! OK ndan! Siap! dan malam harinya berlalu begitu pelan, berpikir apakah terapi yang diberikan tadi cukup
Jumat, 29 Mei 2009: “Demamnya masih naik turun dan masih muntah” Duh apa yang kurang ya? berdoa semoga dia mau makan dan minum elektrolit walaupun cuma sedikit. Cukup bikin badmood juga nih. Sampai2 nonton terminator ketiduran. Padahal filmnya seru..! Untung ada teman2ku Roy, Wendo dan Mutiara yang menghibur. Thx friends
Sabtu, 30 Mei 2009: kok ngantuk ya… tapi ada jadwal jaga. Ayo semangat2… ternyata pasien cuma sedikit. Tapi seneng sih, ternyata kartu NPWPku dah jadi. Horeee…!! Thx Pak Zen dan Anggi. Sebenernya untung juga sih sepi pasien, jadi sempet rekap data pasien dan teliti ulang. Maklumlah, rekap hasil kolaborasi beberapa kepala tanpa briefing dulu. Jadi kadang2 model pencatatannya ga sealiran. Pulang jaga.. saatnya tidur. Melemaskan otot2 tubuh
Minggu, 31 Mei 2009: jaga maning jaga maning… tapi gapapalah, rezeki ga boleh ditolak. Walo kelaparan karena cuma diganjel 2 gorengan harus tetep semangat. Eh tiba2 ditelpon oleh Koplink, teman SMU’ku. “Ayo dolan ke semanggi. Aku bareng Sintadhi lho…” Wah langsung semangat ketemu teman lamaku. Berangkat bareng dr. Mathilda dan PS (Pok Sri), tapi sampai sana berpisah ke tujuan masing2. Setelah nunggu beberpa lama, akhirnya ketemu juga dengan 2 penjahat itu. Gojeg kewanpun dimulai sambil menikmati santap bakso malang (sebenernya aku aja sih yang makan, mereka cuma nonton aku makan sambil sesekali menyeruput juice mereka). Dan beberapa saat kemudian, datang 1 orang lagi yaitu Oscar… wah tambah gayeng. Sayang..tiba2 hp berbunyi… “Dok, pasiennya butuh dokter” Waduh terpaksa reuni dilakukan tanpa kehadiran seorang Munthil hehe… langsung deh meluncur ke IMSC. Sampai disana, ternyata pasien harus dihecting. Mana orang asing lagi.. duh Gusti, paringana kamus… tapi akhirnya dengan bantuan beberapa pihak, terutama Zr.Yamazaki, Fernando dan Kak Nur, selesai juga tugas. Moga2 ga ada apa2 ya… puff… cape bener. Pulang langsung tepar deh…
CU in my activity on the 23rd week
Filed under: My experience | Tags: ecg, ekg, ekstradisi, pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan tahanan
Duh cape nih beberapa hari dipaksa berpikir keras dengan otakku yang pas2an ini.
Jumat kemarin (sekarang rabu), tiba2 dapat perintah dari boss untuk memeriksa seorang tahanan tiba2 mengeluh nyeri dada. Hwaduh lha ini… nyeri itu salah satu keluhan yang sulit diukur kebenarannya karena tidak belum ada parameter yang tepat untuk mengukurnya. Terpaksa deh dilakukan pemeriksaan ECG. Dan hasilnya….. ************* ya itulah, ternyata baru sekarang menyesal, kenapa dulu belajar ECG ga sungguh2. Sekarang di saat mendesak, jadi kerasa pentingnya belajar ECG karena bisa memberi hasil yang cukup sensitif dan spesifik dalam waktu yang cepat. Akhirnya…KONSUL!! hehehe…
Senin kemarin, dapat lagi perintah dari bos (langsung dan tidak langsung) untuk membantu lagi memeriksa tahanan yang lain. Kali ini adalah tahanan yang akan menjalani proses ekstradisi ke Australia. Sebenarnya tugasku sederhana, hanya memastikan status kesehatannya, minimal sampai dia naik pesawat besok selasa; karena setelah naik pesawat (yang berbendera Australia), kesehatannya sudah menjadi tanggungjawab pemerintah Australia. Hanya saja kali ini ada hambatan karena hasil ECG (lagi-lagi ECG) menunjukkan hasil yang abnormal padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali. Dan sulitnya, yang bersangkutan menolak untuk dilakukan pemeriksaan ulang sehingga tidak dapat diperoleh data medis pembanding. Akhirnya, ya sudah… setelah dia menandatangani surat pernyataan tidak bersedia diperiksa kesehatannya, dia diberangkatkan ke Australia… proses ekstradisi selesai… dan hufff…. akhirnya bisa pulang setelah berjam-jam menunggu kedatangan dan keberangkatan pesawat. Niat hati pengin belajar lagi ECG tapi apa daya… mata dan badan tidak bisa kompromi. Akhirnya ya tidur dengan sukses… hehe….
Hari ini Rabu, tidak ada aktivitas yang melelahkan. Saatnya menepati janji pada diri sendiri untuk belajar lagi ECG. Tampaknya jadwal yang lain harus ditunda dulu. Semangat Yohan!!
Filed under: My experience | Tags: diklat kejagung, diklat TAK, pusdiklat, ragunan, tak 14, teknis adminsitrasi kejaksaan
Selasa, 17 Maret 2009: niatnya sih cuma daftar ulang, naruh tas di pusdiklat ragunan, tapi apa daya, ternyata harus langsung mengikuti persiapan gladi upacara pembukaan diklat, pembagian kelas dan sedikit latihan baris berbaris. Rambut harus dipotong 0,1 cm…pufff….pengeluaran pertama, 12.000 rupiah.
Rabu, 18 Maret 2009: hari pertama diklat, bertemu dengan banyak sekali teman-teman baru, 590an orang. Pembukaan diklat, banyak yang pingsan…puff….kasian juga sih, barusan datang dari seluruh penjuru tanah air, masih cape dan harus segera beradaptasi. Tapi ya begitulah, calon2 penerus bangsa harus kuat dan tahan mental.
Rabu-Sabtu, 18-21 Maret 2009: latihan baris berbaris (PBB); dari jalan bagong, suara serak, barisan ular, muka gosong dan kulit telinga mengelupas….wew… itulah inti PBB yang kudapat: disiplin, kompak, satu perintah, saling menghargai.
Sabtu, 21 Maret 2009: lomba PBB. Wedew…barisan masih kayak ular kok dilombain. Pleton yang harusnya maksimal 33 orang diisi 49 orang. Tapi ya apa boleh buat. The show must go on. Eh lha dalah, kebetulan ujan deres. Sangat kontras dengan 4 hari sebelumnya yang begitu menyengat. Alhasil lokasi lomba dipindah ke lapangan tenis indoor. Lumayan, ga terlalu panas jadi ga dehidrasi. Dah gitu karena ruangan lebih kecil, instruksi danton jadi lebih kedengeran. Tapi ya tetep aja pletat pletot hahaha… (maap ya pak paskas)
Minggu, 22 Maret 2009: dapat kesempatan ke gereja. Dimanfaatkan dong, pulangnya beli es kelapa muda. Wuih segarnya. Sorenya berenang dan main pingpong. Manfaatkan dong fasilitas di pusdiklat hehehe… (disana ada juga fitness center, lapangan tenis indoor, lapangan sepakbola dan lapangan volley -red; sayangnya fasilitas bermusik ria masih minim.
Senin-Jumat, 23-27 Maret 2009: Saatnya belajar di dalam kelas. Tupoksi kejaksaan, administrasi pidum, pidsus, datun, pembinaan, pengawasan dan intel semua dilahap. Tidak lupa juga PUDK, kode etik dan fungsi pengawasan. Olahraga jalan terus dong. Tapi cuma pingpong coz kolam renang semakin tidak memungkinkan dan hujan deras setiap hari bikin deg-degan kalau mau berenang. Tugas dokter masih jalan terus dong…apalagi tanggal 26 Maret 2009 hari Nyepi, jadi poliklinik ditutup. Ya sudah berdasarkan instruksi dr Dewi, persediaan obat dan tugas mengobati diserahkan ke 2 dokter baru yang masih (maaf; hijau… siapa sih? ya saya, dan teman saya dr Roy Bozemantoro :p)
Sabtu, 28 Maret 2009: Sepertinya kebosanan dan homesick sudah mencapai puncaknya. Otak, jiwa dan fisik harus direfresh dong. Jadinya dilakukan acara outbound di Taman Mini Ragunan dipandu oleh para instruktur dari TNI-AU. Menuruni tebing, penyeberangan basah, penyeberangan kering, meluncur, mengayun, flying fox, memanjat tali temali dan menyeberangi tali. Wuih….serasa seperti pecinta alam bener2…walo badan pegel2 tapi hati dan pikiran jadi fresh. Ternyata cewek2nya jago2 juga lho, di beberapa arena justru mereka lebih gesit dan lebih kuat. Nah lo…buat cowok2 yg dah punya pacar jangan mau kalo disuruh2 ceweknya wkwkwkwk….
Malamnya, api unggun deh. Walopun bukan hari terakhir, tapi tampaknya malam mingu adalah moment yang ideal untuk bergelap2an ditemani api unggun. Nah lo….pada ngapain hayo…!! Eits…jangan ngeres dulu. Kami ber 12 kelompok adu kekompakan dengan menampilan spontanitas (yang sebenernya sudah dilatih beberapa Bermacam-macam budaya dari Sabang-Merauke ditampilkan. Keren keren sekali. Termasuk TAK 14 juga dong tentunya. Walaupun waktu latihan selalu kacau, tapi waktu penampilan ga jelek2 amat’lah. (……pleton empat belas tidak pernah malas, pleton empat belas pleton yang berkelas…). Jelas’lah. Pleton 14 kan punya Aswad Obama, Mulan Dahlia, Iin Febrina, Leonard Letto, Muis Solo, Indra Simbolon, Haryo Bagong, Anggoro bodyguard dan sederet artis2 lainnya.
Oya sebelum spontanitas, diumumkan juara untuk lomba PBB dan outbound sekaligus pembagian hadiah. Lomba PBB dimenangkan TAK 13, TAK 24 dan TAK 15; sedangkan lomba outbound dimenangkan TAK 15; TAK 14 dan TAK 13. Lumayanlah walaupun cuma juara dua, tapi kami mendapat kenang-kenangan dari Kapten Heru, SH. Terima kasih Kap.
Minggu, 29 Maret 2009: kembali kami yang beragama kristen/katholik diberi kesempatan untuk ke gereja. Lumayan, bisa dimanfaatkan untuk melihat dunia luar. Siangnya TAK 14 berkumpul untuk berfoto memakai baju putih hitam.
Senin, 30 Maret 2009: Ceramah dari JAMBIN, Kapusdiklat dan Karopeg. Sebenarnya ceramah untuk membesarkan hati para siswa yang sebentar lagi akan menyelesaikan pelatihannya dan kemudian ditugaskan ke kejati/kejari/cabjari di seluruh Indonesia. Para siswa juga diberi kesempatan untuk mengeluarkan uneg-unegnya, kritik, saran, dan harapan-harapannya. Siangnya dilakukan lagi gladi kotor upacara penutupan diklat TAK.
Selasa, 31 Maret 2009: Pagi-pagi dilakukan gladi bersih upacara penutupan, dan karena dirasa sudah cukup baik kami diberi kesempatan untuk beristirahat sebentar, dan itu kami manfaatkan untuk berfoto2 lagi. Akhirnya upacara penutupan diklat TAK dilakukan, dan dilanjutkan dengan pembagian sertifikat dan surat penempatan. Kami semua lulus ber-595 walaupun di tengah jalan ada beberapa yang sakit.
Surat Penugasan dibagikan. Mulailah suasana sedih dan sendu menyelimuti pusdiklat. Ada yang sedih karena mendapat tempat tugas yang tidak disangka-sangka. Ada juga yang sedih karena sebentar lagi berpisah dengan sahabat-sahabat baru yang baru sebentar dikenalnya, tapi sudah begitu akrab karena digembleng bersama selama 2 minggu. But life must go on. Semangat ya teman-teman. Mumpung masih muda, taklukan seluruh wilayah Indonesia. Kenali dan jelajahilah. Semoga kita bertemu lagi 2 tahun mendatang dalam diklat PPPJ. Amin. Selamat mengemban tugas dan jaga kesehatan kalian
Filed under: My experience | Tags: busway, kopaja, koridor, metromini, mikrolet
Wah hari ini sungguh penuh cerita. Niat hati pagi2 pengin beli snelli (jas dokter -red) di mangga dua. Dah bangun pagi2 jm5, mandi byar byur smp wangi, eh ternyata tanya2 tetangga dan tetinggi, katanya mangga dua baru buka jam9. Halah! Ya udah drpd bengong nungguin mendingan browsing2. Eh karna keasyikan ga terasa sdh jm10. Sbnrnya msh bisa sih kl mau ke mangga dua jm segitu, tp krn dah janji sm seseorang jm12 di pondok indah dan g enak klo telat, terpaksa rencana ditunda sorenya. Pikirku ah nanti sore aja ah. Mangga dua kan buka smp jm5 sore. Plgn nanti jm2an jg udah slesai. Naik deh saya dg rute spt biasa. Naik KWK B10 smp taman kota terus naik baswei.. koridor 3 jurusan kalideres-harmoni. Krn brgktny jm segitu, lmyn sih ga terlalu umpek2an. Smp harmoni, transit deh ke koridor 1 jurusan Kota-Blok M. Ternyata beberapa halte msh saja diperbaiki, sperti setabudi, bendungan hilir, gelora Bung Karno dan senayan. Untung hari ini libur (ga dpt jadwal). Biasanya sih saya berhenti di halte setiabudi.
Lanjut…setelah smp halte Blok M (haltenya agak menjorok dan nyambung ke Blok M Plaza), saatnya mencari metromini 79 seperti yg diperintahkan mbah dukun
Bis ini jurusan Blok M ke Lebak Bulus melewati Pondok Indah (tp klo ga salah, tadi ga lewat radio dalam). Td lewatnya Jl. RS Fatmawati. Setelah membereskan beberapa urusan termasuk urusan perut, yaitu makan siang, jam menunjukkan 14.30. Sebenernya msh ada waktu untuk ke mangga dua, tp kok males ya? Akhirnya saya memutuskan kembali ke blok M dan mencoba2 rute bis yang lain hehe…isengnya kumat. Dari pondok indah iseng2 naik metromini 72. Tulisannya sih Lebak Bulus-Blok M (lewat pondok indah dan radio dalam). Jd naiklah saya dan membayar dg tarif biasa, Rp 2500,00. Di tengah jalan saya ketiduran. Bangun2 ternyata penumpangnya dah kosong. Walah2… ternyata usut punya usut penumpangnya dioper ke metromini lain. Krn feeling saya mengatakan terminal Blok M dah ga jauh, saya memutuskan untuk jalan kaki saja, pdhl saya belum pernah ke daerah situ jg. Hanya bermodalkan feeling dan papan penunjuk arah. Ternyata emg ga jauh. Jalan kaki 15 menitan’lah. Smp dsana pukul 15.15.
Karena belum terlalu sore, saya memutuskan mencoba baswei koridor 7, yaitu kampung melayu-kampung rambutan. Jadi saya mencoba naik bis kopaja 57 sampai kp.rambutan terus naik busway. Ternyata jalanan mulai macet saudara2…apalagi smp di pasar induk kramat jati dan cililitan..hwaduh hwaduh… ampun deh, drpd ngomel2 saya memutuskan (dari tadi memutuskan, apa yg diputusin ya??) untuk balik arah langsung ke kp.melayu naik mikrolet 06. Oya perlu diinget bagi temen2 yg pengin ke stasiun jatinegara bisa pilih yang 06A. Kalo yg 06 ga lewat. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.15. Nah lanjut… Naik mikrolet 06 smp kp.melayu pukul 17.00 terus naik baswei lg… pilih koridor 5 yg jurusan kampung melayu-ancol. Koridor ini nglewati FK UI jg loh..bagi yg pengin ke FK UI bs naik koridor ini. Smp halte senen central, transit, naik ke jembatan ke halte senen (satunya), naik yang koridor 2 jurusan pulogadung-harmoni. Smp harmoni transit lagi untuk pulang ke arah kalideres. Dan untungnya…halte harmoni yg biasanya penuh sesak, kali ini begitu sepi (yang ke arah kalideres). Dari harmoni pulang deh, naik koridor 3.
Jadi hari ini saya sudah melewati jakarta barat, jakarta pusat, jakarta selatan dan jakarta timur. Hanya jakarta utara yang belum :p
Jadi hari ini saya sudah mencoba busway koridor 3, 1, 5 dan 2. Sebenernya kalau tadi jadi naik busway kp.rambutan-kp.melayu, nambah deh koleksinya koridor 7. Jd yang belum dicoba hari ini koridor 4, 6 dan 7.
Jadi hari ini saya menghabiskan ongkos transportasi 2500 (KWK B10) + 3500 (busway) + 2500 (metromini 79) + 2500 (metromini 72) + 2500 (kopaja 57) + 3000 (mikrolet 06) + 3500 (busway) + 2500 (KWK B10). Totalnya berapa anak-anak? Iya pinter-pinter semua… 22.500 rupiah. Pemborosan sih sebernya krn tanpa tujuan. Tp ya gapapalah buat nambah2 pengalaman.
tanggal 24 Oktober kemarin ternyata adalah hari dokter. Ironisnya, sebuah tragedi menimpaku. Waktu itu aku sedang jaga di sebuah klinik 24 jam. Sekitar pukul 04.45 aku dibangunkan karena ada seorang pasien. Sambil turun tangga dan menguap, aku mikir2, kira2 pasien apa yaa…paling2 KLL nih. Eh ternyata seorang wanita, 34 tahun, P3A0, (atau jangan2 P3A1 ya?) datang didampingi suami, karena mengalami perdarahan pervaginam sejak pukul 23.00. Berarti dah 6 jam’an. Si pasien sudah datang dalam kondisi pucat, anemis. Langsung kutensi, hasilnya 70/palpasi. Hwaduuh… sambil melakukan pemeriksaan cepat aku lakukan anamnesis. Pasien mengaku tidak sedang hamil dan tidak habis melahirkan. Padahal setahuku, perdarahan pervaginam hanya ada 2 kemungkinan, yaitu abortus atau perdarahan postpartum (selain menstruasi dan PUD tentunya). Dari anamnesis tidak pasien mengaku tidak sedang hamil. Ketika ditanya kapan haid terakhirnya, pasien menjawab dia sudah tidak haid selama 5 bulan karena memakai alat kontrasepsi 3 bulan. Emang sih salah satu efek samping AKBS 3 bulan kan gangguan siklus haid. Tetapi pasien mengaku kemarin telat untuk suntik berikutnya. Jadi aku menarik kesimpulan pasien sedang hamil tetapi baik dia maupun suaminya tidak tahu karena menyangka selama ini aman2 saja dengan AKBS 3 bulan. Inspeksi vaginal didapatkan stolsel saja, perdarahan sudah berhenti. Tetapi saya takut kehilangan waktu sehingga memutuskan untuk menginfus si pasien baru setelah itu memikirkan diferensial diagnosis. Sialnya,..di situ pas tidak ada infus set. Mampus!!! Langsung pasien kurujuk dengan diagnosis sementara abortus incompletus.
Baru saja si pasien dinaikkan mobil, aku kepikiran, wah kira2 diagnosisnya bener ga ya? Nanti di rumah sakit rujukan diapakan ya? Akhirnya aku memutuskan untuk ikut keluarga pasien itu saja. Ternyata di rumah sakit rujukan yang diminta oleh pasien, tidak terdapat ICU sehingga dokter jaganya tidak mau merawat; dan dengan alasan supaya tidak terkena biaya adminstrasi, lebih baik pasien dirujuk ke rumah sakit kabupaten saja, toh cuma berjarak 5-10 menit. Akhirnya pasien dibawa ke rumah sakit kabupaten. Beberapa menit sebelum sampai, saya masih meraba denyut nadi si pasien walaupun lemah. Akan tetapi sesampainya di IGD RS kabupaten tersebut, dokter jaganya sudah tidak lagi meraba denyut nadi si pasien. Dan ketika di EKG, hasilnya sudah flat. Pasien dinyatakan meninggal.
Nyesel? iya
Sedih? iya
tapi mau gmn lagi dong? Usaha sudah dilakukan walopun mungkin belum maksimal. Mungkin memang sudah jalan ceritanya begitu.
Buat para TS, ingat selalu ABC! ABC dan ABC lagi! apapun tindakannya, apapun diagnosisnya, apapun causanya, pastikan ABC pasien terjamin.
Filed under: My experience
Ini adalah perjalanan ke Jabodetabek’ku yang kesekian kalinya untuk mencari sesuap nasi dan sekarung berlian (jarene Sumbank)… Setelah jaga 11 hari di Cikarang-Cibarusah dan melewati lebaran, saya mendapat tawaran dari sahabat saya Tuntas Undip untuk jaga di Lebakwangi, Bogor. Karena niatnya lagi ngejar setoran, tawaran itu langsung saya sanggupi. Lagian saya pikir ga terlalu jauh. Ketika saya benar-benar kesana…hwaduuuhhh…tobat tobat…makan waktu lama sekalee. Dari Cibarusah ke Term.Cikarang naik angkot K17a 1 jam, 7000. Nunggu bis 0,5 jam. Dari Term. Cikarang ke Kalideres naik Mayasari 125 10.000 (tapi lumayan patas AC) 1,5 jam. Nunggu bis 0,5 jam. Naik bis 3/4 KJU jurusan Jasinga via Parungpanjang 20.000, 2,5 jam (zzzz) dah gitu kebablasan jadi harus naik ojeg 10.000 20 menit. Total 47.000 dan menghabiskan waktu 6,5 jam. Weleh weleh kaya Purwokerto Semarang aja. Dah gitu jalan yang berlobang-lobang dari Curug Tangerang sampai ke Lebakwangi Bogor sungguh meluluhlantakkan tulang-tulangku hehe…. Eh sampai di klinik belum sempat cuci muka, makan dan istirahat, sudah ada pasien intoksikasi yang menunggu. Intoksikasinya karena neo napacin halah halah… disusul dengan pasien snake bite, disusul dengan… disusul dengan… dan tidak terasa seharian yang melelahkan terlewati juga. Puji Tuhan. Pengalaman yang luar biasa. Thx God for the health and strength you given to me
Filed under: My experience
Dalam perjalanan saya dari Lebak Wangi ke Stasiun Senen untuk pulang ke Purwokerto, saya naik kereta jurusan Parung Panjang – Jakarta Kota. Tentu saja kelas ekonomi karena tidak ada kereta bisnis ap lalagi eksekutif di stasiun Parung Panjang. Model kereta ini sungguh kuno, seperti kereta-kereta zaman Jepang dulu. Dengan posisi tempat duduk menyandar dinding dan berhadapan, memungkinkan bagian tengah diisi lebih banyak orang. Ketika saya membeli tiket, saya sangat terkejut. Harganya ternyata hanya Rp 1.500,00. Saya berpikir, murah amir….wah pasti akan penuh sekali..Dan benar…. ketika pukul 04.30 saya naik, ternyata hanya tersisa tempat duduk. Dalam suasana gelap karena tidak ada cahaya masuk dan lampu kereta belum dinyalakan, saya nekat (ngesuk-suk) mendesak-desak penumpang lain agar saya kebagian tempat
dan berhasil..
Ah lega.. Saya pikir dengan perjalanan 1,5 jam kayaknya bakal cape kalau sampai tidak kebagian tempat duduk. Mana beberapa malam sebelumnya saya tidak sempat tidur nyenyak karena beberapa kali ada pasien berobat tengah malam atau dini hari. Puff…. lumayan nih dapat tempat duduk, pikir saya. Cuma sekarang saya kembali bingung, saya mau turun di mana nih. Salah seorang teman saya berkata bahwa kereta itu lewat Senen jadi saya bisa langsung membeli tiket kereta ke Purwokerto. Tapi ketika saya bertanya kepada salah satu petugas, dia mengatakan kereta tidak lewat Senen tapi harus ke Jakarta Kota dulu.
Ketika sedang sibuk berpikir, saya melihat seorang bapak-bapak (ini nih bahasa indonesia yang tidak baku, seorang kok bapak-bapak..singular apa plural nih? -red) yang sudah agak tua tidak kebagian tempat. Dengan jiwa (sok) pahlawan, saya mempersilakan bapak itu untuk duduk. Si bapak tersenyum dan kemudian kami berbasa-basi. “Turun mana Dik?” tanyanya.. “Kota pak. Oya pak saya bingung kalau mau turun Senen mendingan saya turun di stasiun mana ya?” “O ya turun kota aja gapapa, sudah deket kok. Nanti dari kota bisa naik KRL atau angkutan metro juga banyak. Sebenernya ada yang dari Parung Panjang langsung Senen, naik kereta dari Rangkas. Berangkatnya mungkin jam7 atau 8an”. Wah saya pikir-pikir kalau naik kereta tersebut walau lewat Senen tapi kalau berangkatnya jam segitu ya ga bakal kekejar nih. Saya harus naik Sawunggalih yang jam 8.15. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap naik kereta ini dengan berpatokan dengan omongan bapak itu bahwa Kota-Senen tidak jauh dan kereta bisa nyampe Kota jam 7 kurang. Wah lumayan nih, trik berbuat baik menghasilkan informasi yang (moga-moga) cukup akurat.
Akhirnya pukul 05.10 kereta berangkat, melewati berbagai stasiun: Cicayur, Serpong, Pondokranji, Kebayoran, Palmerah, Tanah Abang, Duri, Angke, Manggarai dan akhirnya pukul 06.45 sampai juga ke Stasiun Kota. Lumayan’lah ga harus berdiri lama dan lebih awal dari perkiraan.
Turun Stasiun Kota, saya bertanya ke petugas cara ke Senen. Dia mengatakan bisa pakai kereta, bisa pakai mikrolet. Kalau naik mikrolet, keluar jalan dikit samapi lampu merah, nyebrang, cari mikrolet M12 yang ke arah kiri. Akhirnya saya ikuti petunjuk petugas itu dan naik mikrolet M12 yang melewati Glodok, Hayam Wuruk, Sawahbesar dan akhirnya sampai ke stasiun Senen pukul 07.15 dengan harga Rp 5000,00. Masuk stasiun saya langsung pesan tiket sawunggalih (Senen-Kutoarjo)kelas bisnis. Harga tiketnya Rp 80.000. Wah naik dikit dari harga sebelumnya Rp 70.000,00 tapi lumayan’lah dah ga semahal waktu lebaran (Rp 100.000,00). Memang katanya PT KAI bermaksud menaikkan harga tiket kereta bisnis dan eksekutif untuk menutup biaya operasional. Ya ga pa pa sih pak, tapi mbok ya tolong itu toilet2 di kereta diperbaiki. Saya sih cowok, mau pipis tinggal pipis. Yang cewek itu kan kasian pak. Mana toilet sering ga bisa dikunci. Belum kalau tiba-tiba ada serangan fajar (kebelet boker wkwkwk).
Setelah memesan tiket, masih ada waktu senggang 50 menit, saya manfaatkan dengan Wuiiihhh lumayan enak sih, cuma ya agak mahal. Ketoprak 1 porsi+air mineral botol sedang Rp11.000,00 padahal ketopraknya cuma kupat, bihun dan kerupuk. Ya maklumlah di daerah stasiun pasti makanan harganya mahal. Pukul 08.25 kereta berangkat (buset baru mau berangkat aja dah telat 10 menit, ga ada itikad baik). Dan seperti yang sudah saya duga, kereta tiba di Purwokerto pukul 15.05 (terlambat 70 menit dari jadwal). Tapi karena dah kangen dengan purwokerto dan sepanjang perjalanan saya lebih banyak tidur, perjalanan menjadi tidak terasa hehehe….